Welcome and thank you for your visit

Welcome and thank you for your visit

Wednesday, October 14, 2015

KEUTAMAAN PUASA HARI ‘ASYURA DAN TASU’A BERDASARKAN HADIS NABI




Di dalam kitab beliau Riyadhus Shalihin, Al-Imam An-Nawawi –rahimahullah- membawakan tiga buah hadits yang berkenaan dengan puasa sunnah pada bulan Muharram, yaitu puasa hari ‘Asyura (10 Muharram) dan Tasu’a (9 Muharram).
Hadits yang Pertama
عن ابن عباس رَضِيَ اللَّهُ عَنهُ أن رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم صام يوم عاشوراء وأمر بصيامه. مُتَّفّقٌ عَلَيهِ
Dari Ibnu Abbas – radhiyallahu ‘anhuma -, ” Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa pada hari ‘Asyura dan memerintahkan untuk berpuasa padanya”. (Muttafaqun ‘Alaihi).
Hadits yang Kedua
عن أبي قتادة رَضِيَ اللَّهُ عَنهُ أن رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم سئل عن صيام يوم عاشوراء فقال: ((يكفر السنة الماضية)) رَوَاهُ مُسلِمٌ.
Dari Abu Qatadah – radhiyallahu ‘anhu -, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang puasa hari ‘Asyura. Beliau menjawab, “(Puasa tersebut) Menghapuskan dosa satu tahun yang lalu”. (HR. Muslim)
Hadits yang Ketiga
وعن ابن عباس رَضِيَ اللَّهُ عَنهُما قال، قال رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم: ((لئن بقيت إلى قابل لأصومن التاسع)) رَوَاهُ مُسلِمٌ.
Dari Ibnu Abbas – radhiyallahu ‘anhuma – beliau berkata : ” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apabila (usia)ku sampai tahun depan, maka aku akan berpuasa pada (hari) kesembilan” (HR. Muslim)
TAKHRIJ HADITS
• Hadits yang pertama telah dikeluarkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dalam Ash-Shaum no hadits 2003, Al-Imam Muslim di dalam Ash-Shiyam no hadits 128, serta Abu Dawud dalam Ash-Shaum no hadits 2444.
• Hadits yang kedua telah dikeluarkan oleh Al-Imam Muslim di dalam Ash-Shiyam no hadits 197, serta Abu Dawud dalam Ash-Shaum no hadits 2425, At-Tirmidzi dalam Ash-Shaum no hadits 767, serta Imam Ahmad dalam musnadnya (4/25)
• Hadits yang ketiga dikeluarkan oleh Al-Imam Muslim di dalam Ash-Shiyam hadits no 34, Ahmad dalam musnadnya (1/225) dan Ibnu Majah di dalam Ash-Shiyam (1736)
(Lihat takhrij Syarh Riyadhis Shalihin).

FAEDAH HADITS
Hadits-hadits di atas menjelaskan kepada kita tentang disyariatkannya berpuasa pada hari ‘Asyura (10 Muharram). Begitu pula pada hari Tasu’a ( 9 Muharram) sebagaimana yang akan diterangkan oleh Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin – rahimahullah Ta’ala –
Beliau berkata (Syarh Riyadhush Shalihin, Ibnul Utsaimin),
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang puasa pada hari ‘Asyura, beliau menjawab, “Menghapuskan dosa setahun yang lalu”, ini pahalanya lebih sedikit daripada puasa Arafah (yakni menghapuskan dosa setahun sebelum serta sesudahnya –pent). Bersamaan dengan hal tersebut, selayaknya seorang berpuasa ‘Asyura (10 Muharram) disertai dengan (sebelumnya.ed.) Tasu’a (9 Muharram). Hal ini karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apabila (usia)ku sampai tahun depan, maka aku akan berpuasa pada yang kesembilan”, maksudnya berpuasa pula pada hari ‘Asyura.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk berpuasa pada hari sebelum maupun setelah ‘Asyura (1) dalam rangka menyelisihi orang-orang Yahudi karena hari ‘Asyura –yaitu 10 Muharram- adalah hari dimana Allah selamatkan Musa dan kaumnya, dan menenggelamkan Fir’aun dan para pengikutnya. Dahulu orang-orang Yahudi berpuasa pada hari tersebut sebagai syukur mereka kepada Allah atas nikmat yang agung tersebut. Allah telah memenangkan tentara-tentaranya dan mengalahkan tentara-tentara syaithan, menyelamatkan Musa dan kaumnya serta membinasakan Fir’aun dan para pengikutnya. Ini merupakan nikmat yang besar.
Oleh karena itu, setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tinggal di Madinah, beliau melihat bahwa orang-orang Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyura (2). Beliau pun bertanya kepada mereka tentang hal tersebut. Maka orang-orang Yahudi tersebut menjawab, “Hari ini adalah hari dimana Allah telah menyelamatkan Musa dan kaumnya, serta celakanya Fir’aun serta pengikutnya. Maka dari itu kami berpuasa sebagai rasa syukur kepada Allah”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Kami lebih berhak terhadap Musa daripada kalian”.
Kenapa Rasulullah mengucapkan hal tersebut? Karena Nabi dan orang–orang yang bersama beliau adalah orang-orang yang lebih berhak terhadap para nabi yang terdahulu. Allah berfirman,
إِنَّ أَوْلَى النَّاسِ بِإِبْرَاهِيمَ لَلَّذِينَ اتَّبَعُوهُ وَهَذَا النَّبِيُّ وَالَّذِينَ آَمَنُوا وَاللَّهُ وَلِيُّ الْمُؤْمِنِينَ
“Sesungguhnya orang yang paling berhak dengan Ibrahim adalah orang-orang yang mengikutinya dan nabi ini (Muhammad), serta orang-orang yang beriman, dan Allah-lah pelindung semua orang-orang yang beriman”. (Ali Imran: 68)
Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang paling berhak terhadap Nabi Musa daripada orang-orang Yahudi tersebut, dikarenakan mereka kafir terhadap Nabi Musa, Nabi Isa dan Muhammad. Maka beliau shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa ‘Asyura dan memerintahkan manusia untuk berpuasa pula pada hari tersebut. Beliau juga memerintahkan untuk menyelisihi Yahudi yang hanya berpuasa pada hari ‘Asyura, dengan berpuasa pada hari kesembilan atau hari kesebelas beriringan dengan puasa pada hari kesepuluh (‘Asyura), atau ketiga-tiganya. (3)
Oleh karena itu sebagian ulama seperti Ibnul Qayyim dan yang selain beliau menyebutkan bahwa puasa ‘Asyura terbagi menjadi tiga keadaan:
1. Berpuasa pada hari ‘Asyura dan Tasu’ah (9 Muharram), ini yang paling afdhal.
2. Berpuasa pada hari ‘Asyura dan tanggal 11 Muharram, ini kurang pahalanya daripada yang pertama. (4)
3. Berpuasa pada hari ‘Asyura saja, sebagian ulama memakruhkannya karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk menyelisihi Yahudi, namun sebagian ulama yang lain memberi keringanan (tidak menganggapnya makhruh). (5)

Wallahu a’lam bish shawab.
ABU UMAR URWAH AL BANKAWY
( Sumber: Syarh Riyadhis Shalihin karya Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin terbitan Darus Salam – Mesir )
Catatan :
1. Adapun hadits yang menyebutkan perintah untuk berpuasa setelahnya (11 Asyura’ ) adalah dha’if (lemah) . Hadits tersebut berbunyi :
صوموا يوم عاشوراء و خالفوا فيه اليهود صوموا قبله يوما و بعده يوما . ‌-
” Puasalah kalian hari ‘Asyura dan selisihilah orang-orang yahudi padanya (maka) puasalah sehari sebelumnya dan sehari setelahnya. (HR. Ahmad dan Al Baihaqy. Didhoifkan oleh As Syaikh Al Albany di Dho’iful Jami’ hadits no. 3506)

Dan berkata As Syaikh Al Albany – Rahimahullah- di As Silsilah Ad Dho’ifah Wal Maudhu’ah IX/288 No. Hadits 4297: Penyebutan sehari setelahnya (hari ke sebelas. pent) adalah mungkar, menyelisi hadits Ibnu Abbas yang shohih dengan lafadz :
لئن بقيت إلى قابل لأصومن التاسع” .
” Jika aku hidup sampai tahun depan tentu aku akan puasa hari kesembilan”
Lihat juga kitab Zaadul Ma’ad 2/66 cet. Muassasah Ar Risalah Th. 1423 H. dengan tahqiq Syu’aib Al Arnauth dan abdul Qadir Al Arna’uth.

لئن بقيت لآمرن بصيام يوم قبله أو يوم بعده . يوم عاشوراء ) .-
” Kalau aku masih hidup niscaya aku perintahkan puasa sehari sebelumnya (hari Asyura) atau sehari sesudahnya” ((HR. Al Baihaqy, Berkata Al Albany di As Silsilah Ad Dho’ifah Wal Maudhu’ah IX/288 No. Hadits 4297 : Ini adalah hadits mungkar dengan lafadz lengkap tersebut.))

2. Padanya terdapat dalil yang menunjukkan bahwa penetapan waktu pada umat terdahulupun menggunakan bulan-bulan (qamariyyah, Muharram s/d Dhulhijjah. Pent.) bukan dengan bulan-bulan ala eropa (Jan s/d Des). Karena Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam mengabarkan bahwa hari ke sepuluh dari Muharram adalah hari dimana Allah membinasakan Fir’aun dan pengikutnya dan menyelamatkan Musa dan pengikutnya. ( Syarhul Mumthi’ VI.)
3. Untuk puasa di hari kesebelas haditsnya adalah dha’if ( lihat no. 1) maka – Wallaahu a’lam – cukup puasa hari ke 9 bersama hari ke 10 (ini yang afdhol) atau ke 10 saja.
Berkata As Syaikh Salim Bin Ied Al Hilaly : Sebagian ahlu ilmu berpendapat bahwa menyelisihi orang yahudi terjadi dengan puasa sebelumnya atau sesudahnya. Mereka berdalil dengan hadits yang diriwayatkan dari Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasallam :
صوموا يوم عاشوراء و خالفوا فيه اليهود صوموا قبله يوما أو بعده يوما . ‌
” Puasalah kalian hari ‘Asyura dan selisihilah orang-orang yahudi padanya (maka) puasalah sehari sebelumnya atau sehari setelahnya.
Aku katakan : ini adalah pendapat yang lemah, karena bersandar dengan hadits yang lemah tersebut yang pada sanadnya terdapat Ibnu Abi Laila dan ia adalah jelek hafalannya. ( Bahjatun Nadhirin Syarah Riyadhus Shalihin II/385. cet. IV. Th. 1423 H Dar Ibnu Jauzi)

4. (lihat no. 3)
5. As Syaikh Muhammad Bin Shalih al Utsaimin Rahimahullah mengatakan :
والراجح أنه لا يكره إفراد عاشوراء.
Dan yang rajih adalah bahwa tidak dimakruhkan berpuasa ‘Asyura saja. ( Syarhul Mumthi’ VI )
Wallaahu a’lam

Wednesday, October 7, 2015

PENTINGNYA KHAUF DAN ROJA’ BAGI ORANG YANG BERIMAN





Orang yang memperhatikan Siroh Sahabat Nabi dan para salafus sholeh baik perkataan dan perbuatan meraka, akan didapati pada mereka berada antara khauf (takut) dan roja' (berharap). Mereka yang lebih merasa takutnya itu akan membuat dia putus asa, gimana bila dia berbuat dosa kayanya Allah gak akan  mengampuni saya,  karena dosa saya terlalu banyak, dia lupa Bahwa Allah berfirman " I'lamu annallaha ghofururrohiim" (ketahuilah bahwa Allah itu Ghofururrohim) tapi siksa-Nya pedih. maka antara itu bila kita baca Al Qur'an akan mendapati ayat-ayat tentang Neraka tapi setelah itu ada ayat-ayat tentang Surga , kita baca tentang azab Allah setelah itu kita akan membaca tentang Rahmat Allah. Seorang mu'min harus hidup diantara itu. ada yang lebih condong pada Rahmat Allah, biasanya neh..  biasanya yang udah ngaji ustadz katanya kan pokoknya tauhid ustadz dosa-dosa yang lain insya Allah aman ustadz, sehingga dia selalu melihat kepada Rahmat Allah, sebagaian diantara kita itu merasa aman dengan amalannya, dia berbuat dosa tanpa takut bahwa Allah akan memberikan sanksi yang besar. Yang merasa aman dengan dosa-dosa yang dilakukan maka ingatlah nabi Adam karena satu dosa dikeluarkan dari Surga. Bagaimana kita yang banyak dosanya, mau berharap bisa masuk Surga.
dalam Hadits dari ‘Aisyah “
“Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut akan (azab) Rob mereka, dan orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Rob mereka, dan orang-orang yang tidak mempersekutukan dengan Rob mereka (sesuatu apapun), dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Rob mereka, mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya.” (QS al-Mu’minuun: 57-61).

Imam Tirmidzi membawakan sebuah hadits tentang tafsir ayat ini didalam sunannya yang diriwayatkan sampai pada Aisyah radhiyallahu anha. Beliau menceritakan, “Diriku pernah bertanya kepada Rasulallah shalalahu ‘alaihi wa sallam tentang maksud firman Allah Ta’ala

وَٱلَّذِينَ يُؤۡتُونَ مَآ ءَاتَواْ وَّقُلُوبُهُمۡ وَجِلَةٌ

“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut.” (QS al-Mu’minuun: 60).
Aisyah radhiyallahu anha bertanya, ‘Apakah mereka orang-orang yang dahulunya minum khamr dan mencuri?’ Maka beliau shalalahu ‘alaihi wa sallam menjawab

« لا يا بنت الصديق ولكنهم الذين يصومون ويصلون ويتصدقون وهم يخافون أن لا يقبل منهم أولئك الذين يسارعون في الخيرات

Bukan, wahai puteri ash-Shidiq. Akan tetapi, mereka adalah orang-orang yang berpuasa, sholat dan bersedekah, lalu dibarengi rasa takut sekiranya amalannya tidak diterima. Mereka itulah orang-orang yang bersegera untuk berlomba-lomba dengan kebaikkan.” HR at-Tirmidzi no: 3175. Dinyatakan shahih oleh al-Albani dalam Shahih at-Tirmidzi 3/79 no: 2537.
Sungguh para sahabat Rasulallah shalalahu ‘alaihi wa sallam, dengan ketamakan mereka dalam mengerjakan amal shaleh, selalu saja rasa takut menghampiri mereka kalau sekiranya amalan yang mereka lakukan gugur sia-sia. Mereka takut amalannya tidak diterima. Hal itu tentu timbul karena kedalaman ilmu yang mereka miliki serta keimanan yang begitu kuat. Sampai kiranya Abdullah bin Mulaikah mengatakan, “Aku telah menjumpai tiga puluh orang sahabat Nabi lebih, dan mereka semua takut sifat nifak dalam dirinya, dimana tidak ada seorangpun di antara mereka yang mengatakan, ‘Sesungguhnya keimananan saya seperti keimanannya Jibril dan Mikail’. “
Abu Darda radhiyallahu anhu pernah mengatakan, “Kalau seandainya aku bisa yakin seratus persen bahwa Allah Shubhanahu wa ta’ala menerima satu sholat saja yang aku kerjakan, maka itu lebih aku cintai dari pada dunia dan isinya, karena Allah Ta’ala telah berfirman

قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ ٱللَّهُ مِنَ ٱلۡمُتَّقِينَ

“Berkata Habil, “Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa.” (QS al-Maa’idah: 27).”
Sahabat Ali bin Thalib radhiyallahu anhu pernah mengatakan, “Hendaknya kalian menjadi orang yang lebih memperhatikan apakah amalnya diterima dari hanya sekedar beramal.

orang-orang yg berpuasa, melaksanakan shalat dan bershodaqoh sedangkan mereka merasa takut jika amaln2 itu tidak diterima mereka itu adalah orang yang bersegera dalam kebaikan. Orang-orang yang beramal sholeh semakin takut, ok kita dah beramal, yang menjadi kepentingan kita bukan masalah amalannya bagaimana amalan tersebut diterima Allah SWT, kita bisa terus istiqomah dalam amalan itu dan orang-orang sholeh sudah beramal, sudah puasa, tapi mereka merasa tetap takut  tidak diterima amalannya. Padahal Allah berfirman “innama yahsyallaha min ‘ibabadihil ‘ulama. Yang takut sama  Allah dari hamba-hamba-Nya hanya ulama. Semakin berilmu seharusnya kita semakin takut pada Allah. Bukan kita semakin berilmu semakin bisa nipu dan jauh dari Allah SWT.

Mengutip Ceramah : Ust. Syafiq Reza Basalamah


Friday, September 18, 2015

Bikin ketawa

https://www.youtube.com/watch?v=UvbzJ6R_2PE


 VIDEO BIKIN NGAKAK... HAHA...
Lihat videonya apakah anda tertawa? bila tertawa setidaknya kesedihan dan beban anda hari ini akan terobati setidaknya berkurang.Video Karya anak SMK N 1 KARANGANYAR PURBALINGGA.
Klik link dibawah ini untuk melihat videonya.. dan selamat menyaksikan.. semoga terhibur...

Wednesday, September 16, 2015

Kesalahan-kesalahan saat Wukuf di Padang Arafah




Sudah kita ketahui bersama bahwa melaksanakan ibadah haji merupakan rukun Islam yang kelima bagi yang mampu menunaikannya. Dalam Al-Qur’an dan hadits banyak disebutkan tentang keutamaan-keutamaan yang ada didalamnya. Agar mendapatkan keutamaan-keutamaan tersebut tentu pelaksanaan dan tata caranya harus benar sesuai dengan tuntunan Rasululloh saw. Termasuk dalam hal ini adalah tata cara pelaksanaan wukuf di padang Arafah.
Setiap tahun, kita masih melihat banyak jamaah haji yang melakukan kesalahan-kesalahan fatal saat melakukan wukuf di padang Arafah. Kesalahan-kesalahan yang berulang tersebut bisa jadi disebabkan oleh ketidaktahuan, kurang ilmu, kurang motivasi, dan sikap tidak peduli.
Harus diingat bahwa wukuf di padang Arafah adalah termasuk rukun haji yang paling utama sehingga kesalahan yang dilakukan bisa menyebabkan hajinya tidak sah sebagaimana hadits Rasululloh yang berbunyi:
“Haji adalah Arafah, barangsiapa yang datang pada malam harinya sebelum terbit fajar (hari kesepuluh), maka dia telah mendapatkan wukuf”. (HR. At-Tirmidzi)
Di antara kesalahan-kesalahan yang sering dilakukan oleh jamaah haji ketika melakukan wukuf di padang Arafah antara lain:
  • Wukuf di luar wilayah Arafah
  • Keluar dari Arafah sebelum matahari terbenam
  • Menyibukkan diri dengan berbelanja dan berjalan-jalan
  • Menghabiskan waktu untuk mendaki Jabal Rahmah dan menuliskan prasasti
  • Berdo’a menghadap Jabal Rahmah dan membelakangi kiblat
  • Tidur dan tidak mengoptimalkan berdo’a dan berdzikir
  • Menyibukkan diri ber-narsis ria dengan berfoto-foto di Arafah
Kesalahan wukuf di luar wilayah Arafah dan keluar dari Arafah sebelum matahari terbenam bisa menyebabkan hajinya tidak sah. Oleh karenanya, hendaklah kita menghindari kesalahan-kesalahan tersebut dan lebih memfokuskan diri untuk berdo’a, berdzikir dan membaca Al-Qur’an selama wukuf di padang Arafah. Jangan sia-siakan keutamaan Arafah yang sangat di muliakan dan banggakan oleh Allah dan Rasul-Nya, seperti hadits berikut:
“Tidak ada hari di mana Allah memerdekakan hamba-hamba-Nya dari neraka selain hari Arafah. Allah sesungguhnya mendekati mereka dan membanggakan mereka kepada para malaikat seraya berkata; Apa saja yang mereka impikan akan Aku kabulkan.”
(HR. At- Tirmidzi)


Ingat, do’a pada hari Arofah dan bertempat di Arafah adalah do’a paling afdhol seperti kutipan hadits berikut:
“Doa terbaik adalah doa di hari Arafah. Dan ucapan terbaik yang saya dan para nabi sebelumku pernah ucapkan adalah, “LAA ILAAHA ILLALLAHU WAHDAHU LAA SYARIKA LAHU, LAHUL MULKU WA LAHUL HAMDU WA HUWA ‘ALA KULLI SYAY`IN QODIR “ (HR. At-Tirmidzi).

Wukuf adalah puncaknya ibadah haji. Banyak hikmah yang dapat diambil dari ritual agung ini. Namun dari sekian banyak hikmah yang dapat diambil, yang paling layak untuk direnungi adalah kisah yang manjadi latar belakang dari ritual ini. Ketika Allah swt akhirnya mempertemukan nabi Adam as dan Siti Hawa setelah sekian lama terpisah sejah diturunkan dari surga sebagai hukuman atas ketidak-patuhan keduanya mengikuti perintah Allah swt.
Bahwa taubat itu membutuhkan kesungguhan, tekad yang kuat, penyesalan, dan tidak berputus asa dari rahmat Allah swt. Itulah yang dilakukan oleh nabi Adam as sampai beliau memperoleh ampunan dari Allah swt. Wukuf adalah gambaran dari sebuah ritual perenungan dan tafakkur dalam usaha pencarian kebenaran, hidayah, ampunan dan makrifatulloh. Wukuf adalah introspeksi kejiwaan dan ruhaniyah dalam perjalanan mengenal diri yang pada akhirnya akan mengantarkan kita mampu mengenal Allah swt.
Hidup ini sejatinya adalah sebuah perjalanan, terkadang kita perlu berhenti sejenak dari perjalanan ini untuk melakukan introspeksi, evaluasi terhadap perjalanan yang telah kita lalui ini. Apakah perjalanan hidup kita sudah sesuai dengan tuntunan dan tujuan penciptaan kita? Jika jawabannya adalah belum, maka segeralah lakukan koreksi dan kembali kepada hakikat yang sejati.
Sebab tidaklah kita ini diciptakan sia-sia, tidak sebesar dzarrah pun amal yang kita lakukan semasa di dunia ini melainkan akan dimintai pertanggung-jawabannya nanti pada hari pembalasan, yaitu ketika manusia dibangkitkan dari kematiannya lalu dikumpulkan di padang Mahsyar. Apakah kita sudah siap menghadapi hari perhitungan itu? Jawabannya terletak pada diri kita masing-masing.
Demikianlah uraian singkat mengenai makna dan hikmah dari wukuf di padang Arafah ini. Semoga ritual ini mampu memberikan kesadaran kepada kita agar mulai mempersiapkan diri menghadapi peristiwa maha dahsyat itu sebelum terlambat. Aku memohon ampun kepada Allah swt untuk diriku dan kalian, dan aku berlindung kepada-Nya dari kecelakaan dan kehinaan pada hari tersebut, hari ketika seluruh manusia dikumpulkan di padang Mahsyar nanti untuk mempertanggung-jawabkan segala amal perbuatannya.




Referensi : hajimabrurbarokah.com